Layanan Kesehatan Gigi untuk Anak SD di Desa Sekaan Oleh FKG Unmas Denpasar
BANGLI, infokintamaniterkini - Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kali ini, tim dosen dan mahasiswa profesi dokter gigi memberikan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut, identifikasi kelainan gigi, serta perawatan langsung kepada siswa SDN Sekaan, Desa Sekaan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Kegiatan yang berlangsung pada 25–26 Mei 2026 tersebut melibatkan 11 dosen dokter gigi dan enam mahasiswa profesi. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan gigi secara menyeluruh, tim juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan rongga mulut serta praktik menyikat gigi yang benar.
Dosen pembimbing sekaligus Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, drg. Norman Hidajah, M.Biomed, mengatakan bahwa program ini lahir dari hasil observasi yang menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan penyakit gigi dan mulut, khususnya di wilayah pedesaan.
"Sebagian besar masyarakat masih datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah merasakan sakit. Padahal, kesehatan gigi seharusnya dijaga melalui upaya promotif dan preventif sejak usia dini. Karena itu, kami hadir langsung ke sekolah agar anak-anak memperoleh edukasi sekaligus pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan," ujar drg. Norman Hidajah.
Menurutnya, anak-anak merupakan kelompok yang sangat tepat menjadi sasaran edukasi karena kebiasaan menjaga kesehatan gigi dapat dibentuk sejak dini. Melalui pendekatan yang menyenangkan, para siswa diajak mengenal penyebab gigi berlubang, pentingnya memilih makanan yang sehat bagi gigi, hingga cara menyikat gigi menggunakan media peraga.
Selain penyuluhan, tim juga melakukan skrining kesehatan gigi terhadap seluruh siswa yang mengikuti kegiatan. Hasil pemeriksaan menunjukkan sebanyak 35 siswa berhasil menjalani pemeriksaan klinis. Dari jumlah tersebut, 10 siswa memerlukan penanganan langsung berupa tindakan kuratif dasar.
Rinciannya, sebanyak dua siswa menjalani pencabutan gigi sulung yang telah mengalami persistensi, tujuh siswa mendapatkan penambalan gigi berlubang, dan satu siswa menjalani pembersihan karang gigi. Seluruh tindakan dilakukan sesuai standar pelayanan kesehatan gigi dengan mengutamakan keamanan dan kenyamanan pasien anak.
drg. Norman menjelaskan bahwa tingginya kebutuhan penambalan gigi menunjukkan karies masih menjadi permasalahan utama yang ditemukan pada anak-anak sekolah dasar.
"Kasus yang paling banyak kami temukan adalah gigi berlubang. Kondisi ini erat kaitannya dengan kebiasaan menyikat gigi yang belum benar serta pola konsumsi makanan yang tinggi kandungan gula. Jika tidak ditangani sejak awal, karies dapat memengaruhi kesehatan, kenyamanan belajar, bahkan tumbuh kembang anak," jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan pelayanan kesehatan langsung di sekolah menjadi solusi efektif bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan gigi. Kehadiran tenaga kesehatan di lingkungan sekolah juga mampu mengurangi rasa takut anak terhadap pemeriksaan maupun perawatan gigi.
Selama kegiatan berlangsung, antusiasme siswa terlihat tinggi. Anak-anak mengikuti penyuluhan dengan aktif, berani bertanya, hingga bersedia menjalani pemeriksaan dan perawatan tanpa rasa takut yang berlebihan. Dukungan dari pihak sekolah dan pemerintah desa turut menjadi faktor penting dalam kelancaran pelaksanaan kegiatan.
Menurut drg. Norman, kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah desa, dan fasilitas pelayanan kesehatan perlu terus diperkuat agar program serupa dapat dilaksanakan secara berkesinambungan.
"Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai program sekali datang. Edukasi dan pemeriksaan berkala perlu terus dilakukan agar kesehatan gigi anak-anak dapat dipantau secara berkelanjutan. Sinergi dengan sekolah dan Puskesmas menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang lebih sehat," katanya.
Komentar
Posting Komentar