SLBN 1 Bangli Minim Pendaftar

 


BANGLI, infokintamaniterkini - Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Bangli masih minim pendaftar pada penerimaan siswa baru tahun ini. Hingga penutupan pendaftaran Sistem Penerimaan Siswa Baru (SPMB) pada Senin (6/7), hanya tercatat 7 orang calon siswa yang mendaftar di sekolah yang berlokasi di Desa Cempaga, Kecamatan Bangli tersebut.

Padahal, pihak sekolah telah melakukan sosialisasi pada 18 Mei lalu dengan persyaratan yang sama seperti tahun sebelumnya. Salah satu syarat wajib adalah surat keterangan ketunaan dari instansi kesehatan atau psikolog.

Sejak sosialisasi dilakukan, pihak sekolah mengaku banyak menerima pertanyaan dari orang tua calon siswa. Namun, pada akhirnya jumlah pendaftar tetap terbatas dan hampir sama dengan tahun sebelumnya.

Kepala SLBN 1 Bangli, Wayan Mudayana, mengatakan pihaknya sudah membuka SPMB dengan rentang waktu yang cukup. Namun, lagi-lagi pendaftarnya minim. Mudayana melihat, banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah inklusi yang lebih dekat.

“Yang daftar hampir sama dengan tahun lalu. Walau kita sudah atur jadwalnya, orang tua siswa masih mengupayakan untuk anaknya masuk ke sekolah inklusi dan terdekat,” ungkapnya saat ditemui di SLBN 1 Bangli, Senin (6/7).

Mudayana menyebut, SLBN 1 Bangli sendiri menjadi alternatif pilihan sekolah bagi anak disabilitas yang tidak mendapatkan kesempatan di sekolah reguler. Sekolah ini menerima berbagai jenis ketunaan, mulai dari tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, hingga autisme. 

Terkait persyaratan, Mudayana menjelaskan bahwa dokumen ketunaan dari dokter atau ahli menjadi dasar awal asesmen siswa.

“Persyaratan mengikuti ketunaan yang dimiliki dari dokter atau ahli. Contoh, anak dengan tuna rungu. Maka, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) yang memberikan rekomendasi bahwa mereka tergolong tuna rungu dengan kemampuan mendengar sekian persen,” imbuh Mudayana.

Menurutnya, persyaratan tersebut wajib sebagai bahan asesmen awal untuk menentukan intervensi pendidikan yang tepat bagi masing-masing siswa. Dalam hal ini, kejujuran keluarga dalam menyampaikan kondisi anak juga dinilai sangat berperan penting terhadap dalam tumbuh dan kembangnya selama mengikuti pelajaran di sekolah.

Kata Mudayana, beberapa anak dari Kabupaten Karangasem memilih bersekolah SLBN 1 Bangli. Walaupun siswa disabilitas menghadapi tantangan pada jarak tempuh. Mereka ada yang berasal dari Kintamani maupun perbatasan Bangli-Karangasem.

Di sisi lain, Pengawas SLB Disdikpora Provinsi Bali, Sang Kompyang Arda menyebut sistem penerimaan siswa di SLB bersifat fleksibel dan tetap menyesuaikan kondisi lapangan. 

“Pengawas kami tetap ada di tiap satuan pendidikan di Bali. Mereka akan melaporkan jumlah siswa yang terdaftar di sekolahnya, terutama soal daya tampung. Sejauh ini, SLB di wilayah Bali bisa memenuhi daya tampung. Beberapa sudah menutup pendaftaran SPMB karena sudah memenuhi daya tampungnya,” ucapnya ditemui di lokasi yang sama, Senin kemarin.

Meski SPMB SLBN 1 Bangli telah ditutup pada 6 Juli 2026, sekolah tetap dimungkinkan menerima pendaftaran tambahan sesuai ketentuan fleksibilitas SLB. Arda berharap anak-anak disabilitas di Bangli dapat segera mendaftar agar memperoleh layanan pendidikan yang sesuai kebutuhan.

“Kami mengharapkan mereka yang sudah terdaftar bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan sesuai kebutuhan masing-masing anak,” harapnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alokasi Kursi DPRD Berpotensi Berubah, Dapil di Bangli Bakal Ditata

Pengadaan LPJU di Bangli Sangat Terbatas

5 Calon Paskibraka asal Bangli Dipulangkan